Selasa, 13 Maret 2012

laporan agroklimatologi



LAPORAN PRAKTIKUM
AGROKLIMATOLOGI



PENENTUAN EVAPORASI DAN NERACA AIR UMUM





OLEH:
Galih Setiawan
NIM AOB009008





DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
ILMU TANAH
PURWOKERTO
2009


I.  PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Yang dimaksud dengan klimatogi ialah ilmu yang membahas dan atau menerangkan tentang iklim, bagaimana iklim itu dapat berbeda pada suatu tempat dengan tempat lainnya. Dan sangat erat hubungannya dengan ilmu ini adalah ilmu tentang cuaca, dimana cuaca dan iklim merupakan salah satu komponen ekosisitem alam sehingga kehidupan baik manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak terlepas dari pengaruh atmosfer dengan proses-prosesnya.

Perbedaan pengertian antara cuaca dan iklim :
Ø  Cuaca adalah keadaan atau kelakuan atmosfer pada waktu tertentu  yang sifatnya berubah-ubah setiap waktu atau dari waktu ke waktu.
Ø  Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal 30 tahun, yang sifatnya tetap.

Klimatologi itu tidak terlepas dari meteorologi, sehingga kadang meteorologi dianggap sama dengan klimatologi. Meteorologi atu ilmu cuaca menekankan pada proses-proses fisika yang terjhadi di atmosfer, misalnya hujan, angin, suhu.

  1. Tujuan

.
1.      Dapat menghitung curah hujan rata-rata
2.       Dapat menetapkan evaporasi dengan metode Penman
3.      Dapat membuat Neraca air umum







II.  DASAR TEORI

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap perubahan cuaca, baik dalam skala kecil maupun besar. Faktor-faktor  itu semakin banyak dan komplek hubungan kait-mengkaitnya jika memperhitungkan pengaruh kegiatan manusia.
Perubahan iklim tersebut berpengaruh terhadap sektor pertanian bahkan sistem produksi pangan dunia akan berubah dengan berubahnya pola iklim/cuaca, hal tersebut harus diperhitungkan dalam perecanaan pangan.  Tidak hanya dalam skala  global tetapi lebih dari itu harus ada tindakan lokal yang spesifik untuk mengantisipasi itu.
Salah satu hal yang penting untuk memperkirakan  unsur cuaca dari suatu wilayah dan yang mempunyai data terbatas adalah menggunakan rumus empiris, karena biasanya wilayah yang belum dikelola atau bahkan di kabupaten atau kecamatan, data meteorologinya sangat kurang atau bahkan belum ada. Oleh karena semua hubungan antara unsur cuaca yang satu  dengan yang lainnya adalah penting untuk memperkirakan salah satu data meteorologi apabila data tersebut belum diamati.
Beberapa unsur cuaca satu dengan yang lain saling mempengaruhi, hubungan antara unsur yang satu denagan yang lain merupakan hubungan dari dua atau lebih peubah/variabel, yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Beberapa penggolongan iklm menurut para ahli :


Penggolongan Iklim Menurut Schmidt Fergusson
Prinsip yang digunaknnya yaitu dengan mengambil bulan kering dan bulan basah.
Diambil data-data curah huajn untuk 10 tahun, akan tetapi yang diambil dari 10 tahun langsung berapa bulan kering dan bulan basah dijumlahkan dan dirata-rata.
Misalnya : Bulan basah = 4, Bulan = 5. dimasukkan dalam rumus Q.
Bulan lembab ternyata dalam penggolongan inipun tidak ikut dihitung. Persamaan yang dikemukakan Schmidt adalah sebagai berikut :
Q  =     Jumlah rata-rata bulan kering
            Jumlah rata-rata bulan basah              
Dari persamaan diatas akan dapat digolongkan iklim sebagai berikut :
       0   < Q < 0,143     merupakan A = Sangat basah
0,143   < Q < 0,333     merupakan B = Basah
0,333   < Q < 0,600     merupakan C = Agak basah
0,600   < Q < 1,000     merupakan D = Sedang
0,1000 < Q < 1,670     merupakan E = Agak kering
1,670   < Q < 3,000     merupakan F = Kering
3,000   < Q < 7,000     merupakan G = Sangat kering
7,000   < Q < -                        merupakan H = Luar biasa kering

Penggolongan Iklim Menurut Oldeman
Klasifikasi yang dibuatnya digunakan terutama untuk keperluan pertanian di Indonesia. Dasar yang digunakannya yaitu adanya bulan basah yang berturut-turut dan bulan kering yang berturut-turut pula, dimana kesemua ini dihubungkan dengan kebutuhan pertanaman padi di sawah serta palawija terhadap air.
menurut Oldeman :
Ø  Bulan basah yaitu suatu bulan dengan curah hujan lebih dari 200 mm, sedang
Ø  Bulan kering yaitu suatu bulan dengan curah hujan yang kurang dari 100 mm
Ø  Evaporasi berdasrkan kebutuhan padi persawahan dan palawija terhadap air.
Berdasarkan penggolongannya yang menitikberatkan pada bulan basah, Oldeman mengemukakan lima zona utama bulan basah yang berturut-turut sebagai berikut :
a)      Zona A, bulan basah yang kurang dari 9 kali berturut-turut.
b)      Zona B, bulan basah 7 sampai 9 kali berturut-turut.
c)      Zona C, bulan basah 5 sampai 6 kali berturut-turut.
d)     Zona D, bulan basah 3 sampai 4 kali.
e)      Zona E, bulan basah yang kurang dari 3 kali.










IIl.  METODOLOGI


A.  Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah  :
§  Kertas
§  bulpoin
§  Kalkulator
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah   :
§  Data tabel curah  hujan selama 10 tahun
§  Data neraca air umum

 

B.  Cara kerja

1.       Data curah hujan di cari rata-rata tiap 10 tahun
2.       menghitung tekanan uap(es-ea)
3.       menghitung fungsi angin f(u)
4.       Menghitung faktor pembuat (1-W) dan W
5.       Menghitung Radiasi bersih
6.       Menghitung faktor penyesuaian (c)
7.       Menghitung evaporasi potensial (ETP)
8.       Mbuat neraca air umum.










IV.           HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Acara I
S- F = BB > 100 mm/bln
            BL 60 – 100mm/ bln
            BK      < 60
Q =      ∑BB    X 100%
            ∑BK   

S – F =   10   x 100%
                 2
            =  5 %
Oldeman = BB > 200 mm/bln
                   BK 100 – 200 mm/bln
                   BK  < 100 mm/bln
Oldeman =   5   X 100%
                     2
2,5 %.

Acara II
1. Evaporasi – dengan metode penman
Temperature Max                      =28
Temperature Min                       =10
Kelembaban Nisbi Max            =90%
Kelembaban Nisbi Min             =80%

Kasus I
Trata-rata                                   = 28+10 = 19
                                                          2
Knrata-rata                                = 90+80 = 85           
                                                         2
Es pada 19  = 22 Mbar.........................tabel 3
Ea        =          Es x Knrata-rata
                                    100
            = 22   X   85
                           100
            = 22 x 0,85
            = 18,7
(Es-Ea ) = 22 – 18,7
              = 3,3 Mbar

2. Fungsi angin
F (u) = 0,27 (1+ U )
                         100
Kec.angin Malam        = 1 m/s
Kec.angin Siang          = 2 m/s
Rata-rata Kec.angin    = 1,5 m/s = 0,0015 = 129,6 km/hari
                                                            1
                                                         86.400
U         = 129,6 km/hari x 0,93 = 120,528 = 120,5 km/hari
F(U)    = 0,27 (1 + 120,5)
                                100
            = 0,27 (1+1205)
            = 0,27 x 2,205
= 0,61
3. Faktor Pembuat (1-W) dan W
Ketinggian      = 1400 m dpa
Tmax               = 28
Tmin                = 10
Trata-rata         = 19
(1 – W)            = 0,288
W                    = 0,712

4. Radiasi Bersih ( Selisih Radiasi datang – keluar )
Trata-rata         = 19
KN                  = 85%
n                      = 8

Limbangan terletak pada Lintang ± 7,7
Ra pada Lintang 7,7 (tabel 9)
 Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Jul
Agust
Sept
Oct
Nop
Des
16,0
16,01
15,55
14,55
13,25
12,6
12,9
12,9
14,9
15,75
13,9
15,85

N pada Lintang 7,7 (tabel 10)
  Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agust
Sept
Oct
Nop
Des
12,4
12,4
12,1
11,9
11,75
11,65
11,7
11,85
12,0
12,25
12,5
12,

Bulan Januari
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (8)] Ra
                                    N
            = [0,25 + (0,5) (     8      )] 16,0
                                       12,4
            = [0,25 + (0,5) ( 0,64)]16,0
            = 9,124  mm/hari
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,425) 9,124
            = 5,24 mm/hari
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,67)
            = 2,5
Rn       = Rns – RnL
            = 5,24– 2,5
            =2,74 mm/har
Bulan Februari
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (8)] Ra
                                    N
            = [0,25 + (0,5) (     8     )] 16,01
                                      12,4
            = [0,25 + (0,5) ( 0,65)]16,01
            = 9,12

Rns      = (1 – α)Rs
            = (1 - 0,425) 9,12
            = 5,24
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,67)
            = 2,5 mm/hari
Rn       = Rns – RnL
            = 5,24 – 2,5
            = 2,74 mm/hari
Bulan Maret
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (    8    )] 15,55
                                       12,1
            = [0,25 + (0,5) ( 0,66)]15,55
            =(0,58)(15,55)
            = 9,01 mm/hari
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,4359,01
            = 5,09
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,69)
            = 2,58
Rn       = Rns – RnL
            = 5,09 – 2,58
            = 2,51 mm/hari
Bulan April
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 14,55
                                      11,9
            = [0,25 + (0,5) ( 0,67)] 14,55
            = 8,51
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,44 ) 8,51
            = 4,76
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,70)
            = 2,62
Rn       = Rns – RnL
            = 4,76– 2,62
            = 2,14 mm/hari
Bulan Mei
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 13,25
                                       11,75
            = 7,81
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,44 ) 7,81
            = 4,37
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,71)
            = 2,65
Rn       = Rns – RnL
            = 4,37– 2,65
            = 1,72 mm/hari
Bulan Juni
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 12,6
                                       11,65
            = [0,25 + (0,5) ( 0,68)] 12,6
            = 7,43
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,44 ) 7,43
            = 4,16
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,71)
            = 2,65
Rn       = Rns – RnL
            = 4,16– 2,65
            = 1,51 mm/har
Bulan Juli
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 12,9
                                      11,7
            = [0,25 + (0,5) ( 0,68)] 12,9
            = 7,61
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,44 ) 7,61
            = 4,26
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,71)
            = 2,65
Rn       = Rns – RnL
            = 4,26– 2,65
            = 1,61mm/hari
Bulan Agustus
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 12,9
                                      11,85
            = [0,25 + (0,5) ( 0,67)] 12,9
            = 7,54
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,44 ) 7,54
            = 4,22
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,70)
            = 2,62
Rn       = Rns – RnL
            = 4,22– 2,62
            = 1,6 mm/hari
Bulan September
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 14,9
                                      1`2,0
            = [0,25 + (0,5) ( 0,66)] 14,9
            = 8,64
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,435 ) 8,64
            = 4,88
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,69)
            = 2,58
Rn       = Rns – RnL
            = 4,88– 2,58
            = 2,3 mm/hari
Bulan Oktober
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 15,75
                                      12,5
            = [0,25 + (0,5) ( 0,65)] 15,75
            = 9,05
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,43 ) 9,05
            = 5,15
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,68)
            = 2,54
Rn       = Rns – RnL
            = 5,15– 2,54
            = 2,61 mm/hari
Bulan November
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 13,9
                                      12,5
            = [0,25 + (0,5) ( 0,64)] 13,9
            = 7,92
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,425 ) 7,92
            = 4,55
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,67)
            = 2,5
Rn       = Rns – RnL
            = 4,55– 2,5
            = 2,05 mm/hari
Bulan Desember
Rs        = [ 0,25 + 0,5 (  8   )] Ra
                                      N
            = [0,25 + (0,5) (      8     )] 15,85
                                      12,6
            = [0,25 + (0,5) ( 0,63)] 15,85
            = 8,95
Rns      = (1 – α)Rs
            = (1- 0,42 ) 8,95
            = 4,55
RnL     = f(T).f(ed).f(n)
            = (14,4).(0,26).(0,66)
            = 2,47
Rn       = Rns – RnL
            = 5,19– 2,47
            = 2,72 mm/hari



5. Faktor Penyesuaian
Nilai c
   Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Jul
Agust
Sept
Oct
Nop
Des
1,11
1,11
1,10
0,99
0,98
0,98
0,98
0,98
0,99
1,10
0,98
0,99

Eto      = c[ W.Rn + (1 – W ). f(u).(es-ea)]
Dengan W= 0,712
            f(U) = 0,61
            (1 – W) = 0,288
            (es-ea) = 3,3

Januari
Eto      = 1,11 [0,712(2,74) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,8 mm/hari
Februari
Eto      = 1,11 [0,712(2,74) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,8 mm/hari
Maret
Eto      = 1,10 [0,712(2,51) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,6 mm/hari
April
Eto      = 0,99 [0,712(2,14) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            2,08 mm/hari
Mei
Eto      = 0,98 [0,712(1,72) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 1,76mm/hari
Juni
Eto      = 0,98[0,712(1,51) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 1,55 mm/hari

Juli
Eto      = 0,98 [0,712(1,6) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 1,6 mm/hari
Agustus
Eto      = 0,98 [0,712(1,6) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 1,6 mm/hari
September
Eto      = 0,99 [0,712(2,3) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,1 mm/hari
Oktober
Eto      = 1,10 [0,712(2,61) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,6 mm/hari
November
Eto      = 0,98 [0,712(2,05) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 1,9 mm/hari
Desember
Eto      = 0,99 [0,712(2,74) + (0,288)(0,61)(3,3)]
            = 2,5 mm/hari

Tabel nilai Eto
   Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Jul
Agust
Sept
Oct
Nop
Des
2,8
2,8
2,6
2,08
1,76
1,55
1,6
1,6
2,1
2,6
1,9
2,5

Acara III
Prosedur Analisis
Neraca Air Umum
Etp = k x Eto  ,k = 0,75














Januari
Etp      = 0,75 X 2,8 X 100
            = 210
Februari
Etp      = 0,75 X 2,8 X 100
            = 210
Maret
Etp      = 0,75 X 2,6 X 100
            = 195
April
Etp      = 0,75 X 2,08 X 100
            = 156
Mei
Etp      = 0,75 X 1,76 X 100
            =132
Juni
Etp      = 0,75 X 1,55 X 100
            =116














Juli
Etp      = 0,75 X 1,6 X 100
            =120
Agustus
Etp      = 0,75 X 1,6 X 100
            =120
September
Etp      = 0,75 X 2,1 X 100
            = 157
Oktober
Etp      = 0,75 X 2,6 X 100
            = 195
November
Etp      = 0,75 X 1,9 X 10
                        = 142,5
Desember
Etp      = 0,75 X 2,5 X 100
            = 187,5



Data Neraca Air Umum
Unsur Neraca Air(mm)
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agst
Sept
Okt
Nov
Des
JML
CHrata-rata
433
413,1
346,3
257
202,2
149,2
78,9
96,6
137,2
243,7
354,6
335,9
3047,7
ETP
210
210
195
156
132
116
120
120
157
195
142,5
187,5
1521
CH-ETP
223
203,1
151,3
101
70,2
33,2
-41,1
-23,4
-19,8
86,7
212,1
148,4
1526,7
SURPLUS
223
203,1
151,3
101
70,2
33,2
0
0
0
86,7
212,1
148,4
1611
DEFISIT
0
0
0
0
0
0
-41,1
-23,4
-19,8
0
0
0
-84,3




B.PEMBAHASAN

         Data yang di perlukan untuk menganalisis masukan air dari curah hujan dan keluaran evaporasi  potensial (ETP). Evapotranspirasi potensial adalah jumlah air yang menguap dari sebidang lahan pertanian yaitu transpirasi tajuk ditambah evaporasi tanah di bawahnya,dalam kondisi tumbuhannya tidak kekurangan air.
         Nilai evaporasi transpirasi yang benar diukur dengan evapotranspirometer atau lisi meter.apabila tidak tyersedia data tersebut, dapat dilakukan estimasi dari data EO panci kelas A dimana:
                              ETP = K x EO
                              ETP = evapotranspirasi potensial
                              K rata-rata = 0,75 (Nasir A.A., 1976)
Dari model neraca air ini di asumsikan bahwa perlakuan tanah terhadap surplus curah hujan belum di perhatikan
Neraca air umum dalam perhitungannya memerlukan

1.masukan data presipitasi terutama curah hujan(CH)
No
Jan
Feb
Mart
Apr
Mei
Jun
Jul
Agut
Sept
Okt
Nov
Des
∑ CH
433
413,1
346,3
257
202,2
149,2
78,9
96,6
137,2
243,7
354,6
335,9

2.Keluaran data evaporasi potensial (ETP)
No
Jan
Feb
Mart
Apr
Mei
Jun
Jul
Agut
Sept
Okt
Nov
Des
ETP
210
210
195
156
132
116
120
120
157
195
142,5
187,5

Dari data di tas menunjukan bahwa daerah Wanyasa mengalami sembilan bulan surplussejak bulan oktober sampai juni dan mengalami defisit selama tiga bulan dari bulan juli sampai september.daerah ini cukup baik untuk jenistanaman pangan terutama sayur-sayuran yang memerlukan kecukupan air untuk pertumbuhan vegetasi.
VI.  KESIMPULAN


Berdasar hasil praktikum yang telah diperoleh, dapat disimpulkan sbb       :
1.      Neraca air umum dipengaruhi noleh curah hujan(CH) dan (ETP)
2.      Curah hujan dapat diperoleh dengan pengukuran.
3.      ETP di peroleh dengan mengalikan curah hujan rata-rata dengan koefisien (Nasir A.A, 1976)























DAFTAR PUSTAKA



Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1986. Klimatologi Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara.

Wisnubroto, S; Siti Lela AS; Mulyono N. 1983. Asas-Asas Meteorologi Pertanian. Yogyakarta : Ghalia Indonesia, UGM.




















No
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des
1
1982
596/29
617/25
260/18
408/24
41/5
22/24
24/4
75/3
22/3
73/12
436/21
571/28
2
1983
654/25
420/24
322/21
320/20
253/14
0/0
0/0
45/5
42/2
314/19
567/29
468/24
3
1984
639/27
728/25
356/26
497/28
304/23
43/8
87/15
89/10
439/25
850/25
5605/17
501/22
4
1985
272/16
571/20
322/23
407/26
186/17
232/2211
92/10
94/10
127/12
261/18
290/22
171/23
5
1986
381/27
179/17
641/27
110/16
122/9
150/17
89/13
77/7
268/22
171/17
115/16
163/10
6
1987
582/24
391/23
280/23
135/16
142/10
133/7
38/5
3/1
43/5
64/3
210/19
292/29
7
1988
323/26
259/22
336/25
105/13
215/19
114/8
81/6
64/7
122/8
220/13
306/22
234/14
8
1989
325/23
67/5
328/20
248/19
218/15
315/16
111/6
138/8
39/1
142/8
350/17
263/21
9
1990
324/24
322/14
303/14
416/19
288/12
232/9
141/6
208/4
167/7
181/10
395/12
320/20
10
1991
324/23
577/27
315/17
332/19
253/13
273/25
126/6
173/6
103/4
161/9
372/14
376/20
Jumlah
433O
4131
3463
2570
2022
1429
789
966
1372
2437
3546
3359
Rata – rata
433
413,1
346,3
257
2022,2
149,2
78,9
96,6
137,2
243,7
354,6
335,9
S – F
B
B
B
B
B
B
L
L
B
B
B
B
Oldeman
B
B
B
B
B
L
K
K
L
B
B
B
Tabel curah hujan/harian hujan selama 10 tahun (1982-1991) di stasiun wanayasa



Neraca Air umum



Tidak ada komentar:

Posting Komentar